Senin, 25 Januari 2016

Laporan Pengamatan Asam-Basa



TUGAS KELOMPOK

Laporan Praktikum Kimia

 







 





D I S U S U N
O
L
E
H:
Ayu Prihatin
Chairunnisa
Eka Indriana Ningsih
Siti Tirta Dinar
Tycha Pratiwi


KELAS XI IPA 2
SMAN 3 KETAPANG
TAHUN AKADEMIK  2013/2014
 




BAB 1
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Asam dan basa merupakan dua senyawa kimia yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum zat-zat yang berasa masam mengandung asam, misalnya asam sitrat pada jeruk dan asam cuka, Basa umumnya mempunyai sifat licin dan terasa pahit. misalnya pada sabun.
Setiap hari kita menggunakan sabun untuk membersihkan badan, ketika sabun mengenai kulit, kita merasakan kulit menjadi bersih dan segar, namun lain halnya jika yang mengenai kulit adalah natrium hidroksida, maka kulit kita akan terasa pedih. Padahal, baik sabun maupun natrium hidroksida merupakan basa.
Hal ini disebabkan kadar basa yang terkandung dalam sabun masih dapat ditolerir oleh tubuh. Dengan kata lain, kekuatan basa yang dimiliki oleh sabun lebih rendah daripada yang dimiliki oleh natrium hidroksida. Keadaan seperti itu berlaku pula untuk asam. Buah jeruk yang mengandung sitrat tidak akan memberikan efek samping ketika kita makan, bahkan akan menyehatkan karena buah jeruk mengandung banyak vitamin C. Namun jangan sekali-kali kalian mencicipi asam yang terdapat di laboratorium terutama asam kuat seperti asam sulfat (H2SO4) dan asam klorida (Hcl). Kedua jenis asam tersebut jika kalian sampai menyentuhnya maka tangan kalian akan melepuh dan dapat menyebabkan gatal-gatal.
Air merupakan elektrolit sangat lemah yang terionisasi menjadi ion H+ dan ion H-. Dalam air, Asam melepaskan ion H+ sedangkan basa melepaskan ion OH-. Dalam air asam kuat dan basa kuat terionisasi seluruhnya. Sedangkan asam lemah dan basa lemah hanya terionisasi sebagian. PH larutan menyatakan konsentrasi H+ dalam larutan. Penetralan asam oleh basa menghasilkan air, menurut Bronsted Lowry asam merupakan donor proton (H+) dan basa merupakan akseptor proton (OH-).
Di laboratorium asam dan basa secara sederhana dapat dikenali dengan menggunakan kertas lakmus. Dalam larutan asam lakmus akan berwarna biru. Larutan asam dan basa merupakan larutan elektrolit, sehingga didalam air akan terurai menjadi ion-ionnya. Apakah yang menyebabkan suatu larutan bersifat asam, demikian pula apa penyebab suatu larutan bersifat basa.
B.       Rumusan Masalah
1. Bagaimana reaksi lakmus biru/merah saat di masukkan ke dalam larutan cuka?
2. Bagaimana reaksi lakmus biru/merah saat di masukkan ke dalam larutan NaOH?
3. Bagaimana reaksi lakmus biru/merah saat di masukkan ke dalam air suling?
4. Reaksi apa yang terjadi saat sari bunga di tetesi larutan NaOH, cuka, dan air suling?
5. Indikator alami apa yang dapat di gunakan untuk menguji asam-basa suatu larutan?
C.      Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui perubahan warna lakmus biru/merah saat di masukkan ke dalam larutan cuka.
2. Untuk mengetahui perubahan warna lakmus biru/merah saat di masukkan ke dalami larutan NaOH.
3. Untuk mengetahui perubahan warna lakmus biru/merah saat masukkan ke dalam air suling.
4. Untuk mengetahui perubahan warna dari indikator alami yang di tetesi larutan NaOH, cuka, dan air suling.
5. Untuk mengetahui Indikator alami yang dapat di gunakan untuk untuk menguji asam-basa suatu larutan.

BAB II
LANDASAN TEORI
A.      Teori Asam dan Basa
Berkaitan dengan sifat asam dan basa, larutan di kelompokkan ke dalam tiga golongan yaitu bersifat asam, bersifat basa atau bersifat netral. Untuk mengenali sifat suatu larutan dapat diketahui dengan menggunakan indikator asam basa. Indikator asam basa adalah suatu zat yang memberikan warna berbeda pada larutan asam dan larutan basa. Dengan adanya perbedaan warna tersebut, indikator asam basa dapat digunakan untuk mengetahui apa suatu zat termasuk larutan asam atau larutan basa. Salah satu indikator asam basa yang praktis digunakan adalah lakmus. Lakmus berasal dari spesies lumut kerak yang dapat berbentuk larutan atau kertas. Lakmus yang sering digunakan berbentuk kertas, karena lebih sukar teroksidasi dan menghasilkan perubahan warna yang jelas.
Ada 2 jenis kertas lakmus, yaitu:
¨    Kertas lakmus merah
Kertas lakmus merah berubah menjadi berwarna biru dalam larutan basa dan pada larutan asam atau netral warnanya tidak berubah (tetap merah).
¨      Kertas lakmus biru
Kertas lakmus biru berubah menjadi berwarna merah dalam larutan asam dan pada larutan basa atau netral warnanya tidak berubah (tetap biru).

Asam mempunyai rasa masam. Rasa masam yang kita kenal misalnya pada beberapa jenis makanan seperti jeruk, jus lemon, tomat, cuka, minuman ringan (soft drink) dan beberapa produk seperti sabun yang mengandung belerang dan air accu. Sebaliknya, basa mempunyai rasa pahit. Tetapi, rasa sebaiknya jangan digunakan untuk menguji adanya asam dan basa, karena beberapa asam dan basa dapat mengakibatkan luka bakar dan merusak jaringan.
Seperti halnya rasa, sentuhan bukan merupakan cara yang aman untuk menguji basa, meskipun kita  telah terbiasa dengan sentuhan sabun saat mandi atau mencuci. Basa (seperti sabun) bersifat alkali, bereaksi dengan protein di dalam kulit sehingga sel-sel kulit akan mengalami pergantian. Reaksi ini merupakan bagian dari rasa licin yang diberikan oleh sabun, yang sama halnya dengan proses pembersihan dari produk pembersih saluran.
1.      Teori Asam-Basa Arrhenius
Ø Asam
Sifat-sifat asam diantaranya adalah terasa masam, bersifat korosif (merusak logam,marmer, dan berbagai bahan lain), terionisasi menghasilkan ion H+ , memiliki pH < 7, dan memerahkan lakmus biru.
Contoh senyawa yang termasuk pada asam, yaitu:
 HCl                                    H2SO4
 CH3COOH                        H3PO4

Ø Basa
Sifat-sifat basa diantaranya adalah terasa pahit,bersifat kaustik (licin seperti bersabun), terionisasi menghasilkan ion OH-, memiliki pH > 7, membirukan lakmus merah.
Contoh senyawa yang termasuk pada basa, yaitu:
      NaOH                                   Ba(OH)2
      NH4OH                                 KOH
2. Teori Bronsted dan Lowry
Di tahun 1923, kimiawan Denmark Johannes Nicolaus Bronsted (1879-1947) dan kimiawan Inggris Thomas Martin Lowry (1874-1936) secara independen mengusulkan teori asam basa baru, yang ternyata lebih umum.
·         Asam: zat yang mendonorkan proton (H+) pada zat lain
·         Basa : zat yang dapat menerima proton (H+) dari zat lain.
Berdasarkan teori ini, reaksi antara gas HCl dan NH3 dapat dijelaskan sebagai reaksi asam basa, yakni:
HCl(g) + NH3(g) →NH4Cl(s)
Simbol (g) dan (s) menyatakan zat berwujud gas dan padat. Hidrogen khlorida mendonorkan proton pada amonia dan berperan sebagai asam. Menurut teori Bronsted dan Lowry, zat dapat berperan baik sebagai asam maupun basa. Bila zat tertentu lebih mudah melepas proton, zat ini akan berperan sebagai asam dan lawannya sebagai basa. Sebaliknya, bila zuatu zat lebih mudah menerima proton, zat ini akan berperan sebagai basa. Dalam suatu larutan asam dalam air, air berperan sebagai basa.
HCl + H2O → Cl + H3O+
asam + basa  → basa konjugasi + asam konjugasi
Basa konjugasi dari suatu asam adalah spesi yang terbentuk ketika satu proton pindah dari asam tersebut. Asam konjugasi dari suatu basa adalah spesi yang terbentuk ketika satu proton ditambahkan ke basa tersebut.
Dalam reaksi di atas, perbedaan antara HCl dan Cl– adalah sebuah proton, dan perubahan antar keduanya adalah reversibel. Hubungan seperti ini disebut hubungan konjugasi, dan pasangan HCl dan Cl– juga disebut sebagai pasangan asam-basa konjugasi. Larutan dalam air ion CO3 2– bersifat basa. Dalam reaksi antara ion CO32– dan H2O, yang pertama berperan sebagai basa dan yang kedua sebagai asam dan keduanya membentuk pasangan asam basa konjugasi.
            H2O + CO32– → OH + HCO3–            
Asam + basa  → basa konjugasi + asam konjugasi
Zat disebut sebagai amfoter bila zat ini dapat berperan sebagai asam atau basa. Air adalah zat amfoter. Reaksi antara dua molekul air menghasilkan ion hidronium dan ion hidroksida adalah contoh reaksi zat
H2O + H2O → OH + H3O+
Asam + Basa  → Basa konjugasi + Asam konjugasi
B.       Kekuatan Asam dan Basa
Pada dasarnya skala/tingkat keasaman suatu larutan bergantung pada konsentrasi ion H+ dalam larutan. Makin besar konsentrasi ion H+ makin asam larutan tersebut. Umumnya konsentrasi ion H+ sangat kecil, sehingga untuk menyederhanakan penulisan, seorang kimiawan dari Denmark bernama Sorrensen mengusulkan konsep pH untuk menyatakan konsentrasi ion H+. Nilai pH sama dengan negatif logaritma konsentrasi ion H+ dan secara matematika diungkapkan dengan persamaan :
pH= -log [H+]
1.      Derajat keasaman (pH) 
Untuk air murni pada temperatur 25 °C :
[H+] = [OH-] = 10-7mol/L
Sehingga pH air murni = – log10-7mol = 7
·       Jika pH = 7, maka  larutan bersifat netral
·       Jika pH < 7, maka larutan bersifat asam
·       Jika pH > 7, maka larutan bersifat basa
Pada temperatur kamar : pKw = pH + pOH = 14
2.      Asam Kuat 
Disebut asam kuat karena zat terlarut dalam larutan ini mengion seluruhnya (α = 1). Untuk menyatakan derajat  keasamannya, dapat ditentukan langsung dari konsentrasi asamnya dengan melihat valensinya.
3.         Asam Lemah 
Disebut asam lemah karena zat terlarut dalam larutan ini tidak mengion seluruhnya,    α ≠ 1, (0 < α < 1). Penentuan besarnya derajat keasaman tidak dapat ditentukan langsung dari konsentrasi asam lemahnya (seperti halnya asam kuat). Konsentrasi ion H+ dapat di tentukan jika derajat ionisasi (α) atau tetapan ionisai asam ( )di ketahui.
4.         Basa Kuat 
Disebut basa kuat karena zat terlarut dalam larutan ini mengion seluruhnya (α = 1). Pada penentuan derajat keasaman dari larutan basa terlebih dulu dihitung nilai pOH dari konsentrasi basanya.
5.         Basa lemah 
Disebut basa lemah karena zat terlarut dalam larutan ini tidak mengion seluruhnya,    α  ≠ 1, (0 <  α < 1). Penentuan besarnya konsentrasi OH- tidak dapat ditentukan langsung dari konsentrasi basa lemahnya (seperti halnya basa kuat), akan tetapi harus dihitung dengan menggunakan rumus :
[OH-]=M x α
C.      Asam dan Basa dalam Kehidupan
Asam merupakan kebutuhan industri yang vital. Empat macam asam yang paling penting dalam industri adalah asam sulfat, asam fosfat, asam nitrat dan asam klorida. Asam sulfat (H2SO4) merupakan cairan kental menyerupai oli. Umumnya asam sulfat digunakan dalam pembuatan pupuk, pengilangan minyak, pabrik baja, pabrik plastik, obat-obatan, pewarna, dan untuk pembuatan asam lainnya. Asam fosfat (H3PO4) digunakan untuk pembuatan pupuk dan deterjen. Namun, sangat  disayangkan bahwa fosfat dapat menyebabkan masalah pencemaran di danau-danau dan aliran sungai.
Asam nitrat (HNO3) banyak digunakan untuk pembuatan bahan peledak dan pupuk. Asam nitrat pekat merupakan cairan tidak berwarna yang dapat mengakibatkan luka bakar pada kulit manusia. Asam klorida (HCl) adalah gas yang tidak berwarna yang dilarutkan dalam air. Asap HCl  dan ion-ionnya yang terbentuk dalam larutan, keduanya berbahaya bagi jaringan tubuh manusia.
Dalam keadaan murni, pada umumnya basa berupa kristal padat. Beberapa produk rumah tangga yang mengandung basa, antara lain deodorant, antasid, dan sabun. Basa yang digunakan secara luas adalah kalsium hidroksida, Ca(OH)2 yang umumnya disebut soda kaustik suatu basa yang berupa  tepung kristal putih yang mudah larut dalam air. Basa yang paling banyak digunakan adalah amonia. Amonia merupakan gas tidak berwarna dengan bau yang sangat menyengat,  sehingga sangat mengganggu saluran pernafasan dan paru-paru bila gas terhirup. Amonia digunakan sebagai pupuk, serta bahan pembuatan rayon, nilon dan asam nitrat.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.       Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum di laksanakan di Laboratorium Kimia SMAN 3 Ketapang pada hari Jumat, 24 Januari 2014.
B.       Alat
1.      Lumpang porselen 1 set
2.      Plat Tetes 1 set
3.      Lakmus Merah dan Biru
4.      Spatula
5.      Kertas Lakmus Merah dan Biru
C.       Bahan
1.      Kunyit
2.      Mahkota Bunga
3.      Larutan Cuka
4.      Larutan NaOH
5.      Aquades
D.       Cara Kerja
1.    Pengujian larutan dengan dengan menggunakan kertas lakmus
1.1 Pengujian larutan pembanding
v Ambil 7 tetes larutan cuka, air suling, dan larutan NaOH dan di teteskan di plat tetes ditempat yang berbeda
v  Uji dengan lakmus merah dan lakmus biru
v  Amati yang terjadi
1.2  Pengujian dan Pengelompokan Larutan
v  Ambil 7 tetes larutan A, B,  C, D, E, dan F
v  Teteskan pada plat tetes
v  Uji denngan lakmus merah dan biru
v  Amati apa yang terjadi
2.    Pengujian Larutan dengam Menggunakan Mahkota Bunga
2.1    Pengujian Larutan Pembanding
v Ambil beberapa lembar mahkota bunga kemudian di tumbuk dan di tambah sedikit air (perlakuan sama untuk kunyit)
v Ambil 3 tetes ekstrak mahkota bunga dan kunyit, kemudian di teteskan di tiga tempat pada plat tetes
v Tambahkan 5 tetes larutan cuka pada tempat yang pertama,  larutan NaOH pada tempat kedua dan air suling pada tempat ke tiga
v Amati perubahan warna yang terjadi
v Dari percobaan yang di lakukan mahkota bunga apa yang tepat dijadikan indikator? Beri alasanmu.
2.2    Pengujian dan Pengelompokkan Larutan
v Ambil 5 tetes larutan G, H, I, J, K, dan L
v Teteskan pada plat tetes
v Uji dengan mahkota bunga yang dipilih sebagai indikator
v Amti perubahan warna yang terjadi dan catat di tabel


BAB IV
PEMBAHASAN


A.      Hasil Pengamatan
Ø  Tabel pengamatan pengujian larutan pembanding
Larutan
Perubahan Warna
Kesimpulan
Lakmus Merah
Lakmus Biru
Air Suling
Tetap (merah)
Tetap (biru)

Larutan Cuka
Tetap (merah)
Merah

Larutan NaOH
Biru
Tetap (biru)

Informasi : Air suling di nyatakan bersifat netral, larutan cuka bersifat asam, larutan NaOH bersifat basa.
Ø  Tabel pengamatan pengujian dan pengelompookkan larutan
No
Larutan
Perubahan Warna
Sifat Larutan
Lakmus Merah
Lakmus Biru
1
A
Merah
Biru
Netral
2
B
Merah Terang
Merah
Asam
3
C
Biru
Biru Terang
Basa
4
D
Merah Terang
Merah
Asam
5
E
Biru
Biru Terang
Basa
6
F
Merah Terang
Merah
Asam



2.Pengujian Larutan dengan Menggunakan Mahkota Bunga
Ø  Tabel pengamatan pengujian larutan pembanding
No
Nama bunga/ bahan alam
Warna ekstrak mahkota bunga / bahan alam
Warna ekstrak mahkota bunga / bahan alam setelah ditambah

Larutan cuka
Larutan NaOH
Air suling
1
Kembang Sepatu
Merah Maroon
Merah Terang
Hijau
Merah Maroon
2
Terompet
Kuning
Kuning Terang
Kuning Terang
Kuning
3
Bougenvil
Merah Muda
Ungu
Cokelat Muda
Merah Muda
4
Kunyit
Kuning
Kuning Muda
Oren
Kuning

Ø  Tabel pengamatan pengujian dan pengelompokkan larutan
No
Larutan
Perubahan Warna Indikator Alam
Sifat Larutan
1
G
Hijau
Basa
2
H
Merah Maroon
Asam
3
I
Hijau
Basa
4
J
Merah
Asam
5
K
Merah Maroon
Netral
6
L
Hijau
Basa



B.       Analisis Data
Perubahan warna kunyit dan ekstrak mahkota bunga dapat terjadi sesuai dengan sifat larutan yang diberi. Perubahan warna pada ekstrak bunga ada yang mencolok dan tidak. Contoh perubahan warna yang tidak mencolok adalah ekstrak kunyit yang berubah dari warna asli kuning menjadi kuning muda (larutan cuka), kuning terang (larutan NaOH),dan  kuning(air suling). Sedangkan perubahan warna yang mencolok adalah Kembang Sepatu dari warna asli merah maroon menjadi merah terang (larutan cuka), hijau (larutan NaOH), dan merah maroon (air suling). Bunga dengan perubahan warna yang mencolok dapat di gunakan untuk mengetahui sifat asam-basa larutan yang belum di ketahui. Misalnya untuk mengetahui sifat larutan G, H, I, J, K, L, kita bisa menggunakan ekstrak kembang sepatu. Karena perubahan warna yang terjadi terlihat jelas.



BAB V
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Dari percobaan yang telah kami lakukan, kita dapat menyimpulkan bahwa, ternyata ekstrak dari bahan alam dapat di gunakan sebagai indikator asam dan basa yang dapat di ketahui dengan perubahan warna yang di tampilkan.
B.       Saran
Sebaiknya dalam memilih indikator untuk percobaan mengetahui  larutan asam basa, pilih objek yang paling baik seperti tanaman kubis ungu, dan kembang sepatu.
 

DAFTAR PUSTAKA
Purba, Michael,dkk. 2012. KIMIA untuk SMA/MA KELAS XI. Jakarta: Penerbit Erlangga
http://wahidahsyamsu.blogspot.com/2013/03/laporan-lengkap-praktikum-kimia.html
(di akses pada tanggal 26 Januari 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar