TUGAS
KELOMPOK
“Laporan Praktikum Kimia”
D I S U S U N
O
L
E
H:
Ayu
Prihatin
Chairunnisa
Eka
Indriana Ningsih
Siti
Tirta Dinar
Tycha
Pratiwi
KELAS XI IPA 2
SMAN 3 KETAPANG
TAHUN AKADEMIK 2013/2014
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Asam dan
basa merupakan dua senyawa kimia yang sangat penting dalam kehidupan
sehari-hari. Secara umum zat-zat yang berasa masam mengandung asam, misalnya asam
sitrat pada jeruk dan asam cuka, Basa umumnya mempunyai sifat licin dan terasa
pahit. misalnya pada sabun.
Setiap hari
kita menggunakan sabun untuk membersihkan badan, ketika sabun mengenai kulit,
kita merasakan kulit menjadi bersih dan segar, namun lain halnya jika yang
mengenai kulit adalah natrium hidroksida, maka kulit kita akan terasa pedih.
Padahal, baik sabun maupun natrium hidroksida merupakan basa.
Hal ini
disebabkan kadar basa yang terkandung dalam sabun masih dapat ditolerir oleh
tubuh. Dengan kata lain, kekuatan basa yang dimiliki oleh sabun lebih rendah
daripada yang dimiliki oleh natrium hidroksida. Keadaan seperti itu berlaku
pula untuk asam. Buah jeruk yang mengandung sitrat tidak akan memberikan efek
samping ketika kita makan, bahkan akan menyehatkan karena buah jeruk mengandung
banyak vitamin C. Namun jangan sekali-kali kalian mencicipi asam yang terdapat
di laboratorium terutama asam kuat seperti asam sulfat (H2SO4) dan asam klorida
(Hcl). Kedua jenis asam tersebut jika kalian sampai menyentuhnya maka tangan
kalian akan melepuh dan dapat menyebabkan gatal-gatal.
Air
merupakan elektrolit sangat lemah yang terionisasi menjadi ion H+ dan ion H-.
Dalam air, Asam melepaskan ion H+ sedangkan basa melepaskan ion OH-. Dalam air
asam kuat dan basa kuat terionisasi seluruhnya. Sedangkan asam lemah dan basa
lemah hanya terionisasi sebagian. PH larutan menyatakan konsentrasi H+ dalam
larutan. Penetralan asam oleh basa menghasilkan air, menurut Bronsted Lowry
asam merupakan donor proton (H+) dan basa merupakan akseptor proton (OH-).
Di
laboratorium asam dan basa secara sederhana dapat dikenali dengan menggunakan
kertas lakmus. Dalam larutan asam lakmus akan berwarna biru. Larutan asam dan
basa merupakan larutan elektrolit, sehingga didalam air akan terurai menjadi
ion-ionnya. Apakah yang menyebabkan suatu larutan bersifat asam, demikian pula
apa penyebab suatu larutan bersifat basa.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana reaksi
lakmus biru/merah saat di masukkan ke dalam larutan cuka?
2. Bagaimana reaksi
lakmus biru/merah saat di masukkan ke dalam larutan NaOH?
3. Bagaimana reaksi
lakmus biru/merah saat di masukkan ke dalam air suling?
4. Reaksi apa yang
terjadi saat sari bunga di tetesi larutan NaOH, cuka, dan air suling?
5. Indikator alami apa
yang dapat di gunakan untuk menguji asam-basa suatu larutan?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui
perubahan warna lakmus biru/merah saat di masukkan ke dalam larutan cuka.
2. Untuk mengetahui
perubahan warna lakmus biru/merah saat di masukkan ke dalami larutan NaOH.
3. Untuk mengetahui
perubahan warna lakmus biru/merah saat masukkan ke dalam air suling.
4. Untuk mengetahui
perubahan warna dari indikator alami yang di tetesi larutan NaOH, cuka, dan air
suling.
5. Untuk mengetahui Indikator
alami yang dapat di gunakan untuk untuk menguji asam-basa suatu larutan.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Teori Asam dan Basa
Berkaitan dengan sifat asam dan basa, larutan di
kelompokkan ke dalam tiga golongan yaitu bersifat asam, bersifat basa atau
bersifat netral. Untuk mengenali sifat suatu larutan dapat diketahui dengan
menggunakan indikator asam basa. Indikator asam basa adalah suatu zat yang
memberikan warna berbeda pada larutan asam dan larutan basa. Dengan adanya
perbedaan warna tersebut, indikator asam basa dapat digunakan untuk mengetahui
apa suatu zat termasuk larutan asam atau larutan basa. Salah satu indikator
asam basa yang praktis digunakan adalah lakmus. Lakmus berasal dari spesies
lumut kerak yang dapat berbentuk larutan atau kertas. Lakmus yang sering
digunakan berbentuk kertas, karena lebih sukar teroksidasi dan menghasilkan
perubahan warna yang jelas.
Ada 2 jenis kertas
lakmus, yaitu:
¨
Kertas lakmus merah
Kertas lakmus merah berubah menjadi berwarna biru dalam larutan basa dan
pada larutan asam atau netral warnanya tidak berubah (tetap merah).
¨
Kertas lakmus biru
Kertas lakmus biru berubah menjadi berwarna merah dalam larutan asam dan
pada larutan basa atau netral warnanya tidak berubah (tetap biru).
Asam mempunyai rasa masam. Rasa masam yang kita kenal misalnya pada
beberapa jenis makanan seperti jeruk, jus lemon, tomat, cuka, minuman ringan
(soft drink) dan beberapa produk seperti sabun yang mengandung belerang dan air
accu. Sebaliknya, basa mempunyai rasa pahit. Tetapi, rasa sebaiknya jangan
digunakan untuk menguji adanya asam dan basa, karena beberapa asam dan basa
dapat mengakibatkan luka bakar dan merusak jaringan.
Seperti halnya rasa, sentuhan bukan merupakan cara yang aman untuk menguji
basa, meskipun kita telah terbiasa dengan sentuhan sabun saat mandi atau
mencuci. Basa (seperti sabun) bersifat alkali, bereaksi dengan protein di dalam
kulit sehingga sel-sel kulit akan mengalami pergantian. Reaksi ini merupakan
bagian dari rasa licin yang diberikan oleh sabun, yang sama halnya dengan
proses pembersihan dari produk pembersih saluran.
1. Teori Asam-Basa Arrhenius
Ø
Asam
Sifat-sifat asam
diantaranya adalah terasa masam, bersifat korosif (merusak logam,marmer, dan
berbagai bahan lain), terionisasi menghasilkan ion H+ , memiliki pH
< 7, dan memerahkan lakmus biru.
Contoh senyawa yang termasuk pada asam, yaitu:
HCl H2SO4
CH3COOH H3PO4
Ø Basa
Sifat-sifat basa
diantaranya adalah terasa pahit,bersifat kaustik (licin seperti bersabun), terionisasi
menghasilkan ion OH-, memiliki pH > 7, membirukan lakmus merah.
Contoh senyawa yang
termasuk pada basa, yaitu:
NaOH Ba(OH)2
NH4OH KOH
2. Teori Bronsted
dan Lowry
Di tahun
1923, kimiawan Denmark Johannes Nicolaus Bronsted (1879-1947) dan kimiawan
Inggris Thomas Martin Lowry (1874-1936) secara independen mengusulkan teori
asam basa baru, yang ternyata lebih umum.
·
Asam: zat yang mendonorkan proton (H+) pada
zat lain
·
Basa : zat yang dapat menerima proton (H+)
dari zat lain.
Berdasarkan
teori ini, reaksi antara gas HCl dan NH3 dapat dijelaskan sebagai
reaksi asam basa, yakni:
HCl(g) + NH3(g)
→NH4Cl(s)
Simbol (g)
dan (s) menyatakan zat berwujud gas dan padat. Hidrogen khlorida mendonorkan
proton pada amonia dan berperan sebagai asam. Menurut teori Bronsted dan Lowry,
zat dapat berperan baik sebagai asam maupun basa. Bila zat tertentu lebih mudah
melepas proton, zat ini akan berperan sebagai asam dan lawannya sebagai basa.
Sebaliknya, bila zuatu zat lebih mudah menerima proton, zat ini akan berperan
sebagai basa. Dalam suatu larutan asam dalam air, air berperan sebagai basa.
HCl + H2O
→ Cl– + H3O+
asam + basa →
basa konjugasi + asam konjugasi
Basa
konjugasi dari suatu asam adalah spesi yang terbentuk ketika satu proton pindah
dari asam tersebut. Asam konjugasi dari suatu basa adalah spesi yang terbentuk
ketika satu proton ditambahkan ke basa tersebut.
Dalam reaksi
di atas, perbedaan antara HCl dan Cl– adalah sebuah proton, dan perubahan antar
keduanya adalah reversibel. Hubungan seperti ini disebut hubungan konjugasi,
dan pasangan HCl dan Cl– juga disebut sebagai pasangan asam-basa konjugasi. Larutan
dalam air ion CO3 2– bersifat basa. Dalam reaksi antara
ion CO32– dan H2O, yang pertama berperan sebagai basa dan
yang kedua sebagai asam dan keduanya membentuk pasangan asam basa konjugasi.
H2O
+ CO32– → OH– + HCO3–
Asam + basa →
basa konjugasi + asam konjugasi
Zat disebut
sebagai amfoter bila zat ini dapat berperan sebagai asam atau basa. Air adalah
zat amfoter. Reaksi antara dua molekul air menghasilkan ion hidronium dan ion
hidroksida adalah contoh reaksi zat
H2O + H2O → OH–
+ H3O+
Asam + Basa → Basa
konjugasi + Asam konjugasi
B. Kekuatan Asam dan Basa
Pada dasarnya skala/tingkat keasaman suatu larutan bergantung pada
konsentrasi ion H+ dalam larutan. Makin besar konsentrasi ion H+ makin asam
larutan tersebut. Umumnya konsentrasi ion H+ sangat kecil, sehingga untuk
menyederhanakan penulisan, seorang kimiawan dari Denmark bernama Sorrensen
mengusulkan konsep pH untuk menyatakan konsentrasi ion H+. Nilai pH sama dengan
negatif logaritma konsentrasi ion H+ dan secara matematika diungkapkan dengan
persamaan :
pH= -log [H+]
1. Derajat keasaman (pH)
Untuk air murni pada
temperatur 25 °C :
[H+] = [OH-]
= 10-7mol/L
Sehingga pH air murni =
– log10-7mol = 7
· Jika pH = 7, maka larutan bersifat netral
· Jika pH < 7, maka larutan bersifat asam
· Jika pH > 7, maka larutan bersifat basa
Pada temperatur kamar :
pKw = pH + pOH = 14
2. Asam Kuat
Disebut asam kuat karena zat terlarut dalam larutan
ini mengion seluruhnya (α = 1). Untuk menyatakan derajat keasamannya,
dapat ditentukan langsung dari konsentrasi asamnya dengan melihat valensinya.
3.
Asam Lemah
Disebut asam lemah karena zat terlarut dalam larutan ini tidak mengion
seluruhnya, α ≠ 1, (0 < α < 1). Penentuan besarnya
derajat keasaman tidak dapat ditentukan langsung dari konsentrasi asam lemahnya
(seperti halnya asam kuat). Konsentrasi ion H+ dapat di tentukan jika
derajat ionisasi (α) atau tetapan ionisai asam (
)di ketahui.
4.
Basa Kuat
Disebut basa kuat karena zat terlarut dalam larutan ini mengion seluruhnya
(α = 1). Pada penentuan derajat keasaman dari larutan basa terlebih dulu
dihitung nilai pOH dari konsentrasi basanya.
5.
Basa lemah
Disebut basa lemah karena zat terlarut dalam larutan ini tidak mengion
seluruhnya, α ≠ 1, (0 < α < 1). Penentuan
besarnya konsentrasi OH- tidak dapat ditentukan langsung dari
konsentrasi basa lemahnya (seperti halnya basa kuat), akan tetapi harus
dihitung dengan menggunakan rumus :
[OH-]=M
x α
C. Asam dan Basa dalam Kehidupan
Asam merupakan kebutuhan industri yang vital. Empat macam asam yang paling
penting dalam industri adalah asam sulfat, asam fosfat, asam nitrat dan asam
klorida. Asam sulfat (H2SO4) merupakan cairan kental
menyerupai oli. Umumnya asam sulfat digunakan dalam pembuatan pupuk,
pengilangan minyak, pabrik baja, pabrik plastik, obat-obatan, pewarna, dan
untuk pembuatan asam lainnya. Asam fosfat (H3PO4)
digunakan untuk pembuatan pupuk dan deterjen. Namun, sangat disayangkan
bahwa fosfat dapat menyebabkan masalah pencemaran di danau-danau dan aliran
sungai.
Asam nitrat (HNO3) banyak digunakan untuk pembuatan bahan peledak dan
pupuk. Asam nitrat pekat merupakan cairan tidak berwarna yang dapat
mengakibatkan luka bakar pada kulit manusia. Asam klorida (HCl) adalah gas yang
tidak berwarna yang dilarutkan dalam air. Asap HCl dan ion-ionnya yang
terbentuk dalam larutan, keduanya berbahaya bagi jaringan tubuh manusia.
Dalam keadaan murni, pada umumnya basa berupa kristal padat. Beberapa
produk rumah tangga yang mengandung basa, antara lain deodorant, antasid, dan
sabun. Basa yang digunakan secara luas adalah kalsium hidroksida, Ca(OH)2
yang umumnya disebut soda kaustik suatu basa yang berupa tepung kristal
putih yang mudah larut dalam air. Basa yang paling banyak digunakan adalah
amonia. Amonia merupakan gas tidak berwarna dengan bau yang sangat
menyengat, sehingga sangat mengganggu saluran pernafasan dan paru-paru
bila gas terhirup. Amonia digunakan sebagai pupuk, serta bahan pembuatan rayon,
nilon dan asam nitrat.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum di laksanakan
di Laboratorium Kimia SMAN 3 Ketapang pada hari Jumat, 24 Januari 2014.
B. Alat
1. Lumpang porselen 1 set
2. Plat Tetes 1 set
3. Lakmus Merah dan Biru
4. Spatula
5. Kertas Lakmus Merah dan Biru
C. Bahan
1. Kunyit
2. Mahkota Bunga
3. Larutan Cuka
4. Larutan NaOH
5. Aquades
D. Cara Kerja
1. Pengujian larutan dengan dengan menggunakan kertas lakmus
1.1 Pengujian larutan
pembanding
v Ambil 7 tetes larutan cuka, air suling, dan larutan NaOH dan di teteskan di
plat tetes ditempat yang berbeda
v Uji dengan lakmus merah dan lakmus biru
v Amati yang terjadi
1.2 Pengujian dan Pengelompokan Larutan
v Ambil 7 tetes larutan A, B, C, D, E,
dan F
v Teteskan pada plat tetes
v Uji denngan lakmus merah dan biru
v Amati apa yang terjadi
2. Pengujian Larutan dengam Menggunakan Mahkota Bunga
2.1 Pengujian Larutan Pembanding
v Ambil beberapa lembar mahkota bunga kemudian di tumbuk dan di tambah
sedikit air (perlakuan sama untuk kunyit)
v Ambil 3 tetes ekstrak mahkota bunga dan kunyit, kemudian di teteskan di
tiga tempat pada plat tetes
v Tambahkan 5 tetes larutan cuka pada tempat yang pertama, larutan NaOH pada tempat kedua dan air suling
pada tempat ke tiga
v Amati perubahan warna yang terjadi
v Dari percobaan yang di lakukan mahkota bunga apa yang tepat dijadikan
indikator? Beri alasanmu.
2.2 Pengujian dan Pengelompokkan Larutan
v Ambil 5 tetes larutan G, H, I, J, K, dan L
v Teteskan pada plat tetes
v Uji dengan mahkota bunga yang dipilih sebagai indikator
v Amti perubahan warna yang terjadi dan catat di tabel
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Ø Tabel pengamatan pengujian larutan pembanding
Larutan
|
Perubahan Warna
|
Kesimpulan
|
Lakmus Merah
|
Lakmus Biru
|
Air Suling
|
Tetap (merah)
|
Tetap (biru)
|
|
Larutan Cuka
|
Tetap (merah)
|
Merah
|
|
Larutan NaOH
|
Biru
|
Tetap (biru)
|
|
Informasi : Air suling
di nyatakan bersifat netral, larutan cuka bersifat asam, larutan NaOH bersifat
basa.
Ø Tabel pengamatan pengujian dan pengelompookkan larutan
No
|
Larutan
|
Perubahan Warna
|
Sifat Larutan
|
Lakmus Merah
|
Lakmus Biru
|
1
|
A
|
Merah
|
Biru
|
Netral
|
2
|
B
|
Merah Terang
|
Merah
|
Asam
|
3
|
C
|
Biru
|
Biru Terang
|
Basa
|
4
|
D
|
Merah Terang
|
Merah
|
Asam
|
5
|
E
|
Biru
|
Biru Terang
|
Basa
|
6
|
F
|
Merah Terang
|
Merah
|
Asam
|
2.Pengujian Larutan
dengan Menggunakan Mahkota Bunga
Ø Tabel pengamatan pengujian larutan pembanding
No
|
Nama bunga/ bahan
alam
|
Warna ekstrak mahkota
bunga / bahan alam
|
Warna ekstrak mahkota
bunga / bahan alam setelah ditambah
|
|
Larutan cuka
|
Larutan NaOH
|
Air suling
|
1
|
Kembang Sepatu
|
Merah Maroon
|
Merah Terang
|
Hijau
|
Merah Maroon
|
2
|
Terompet
|
Kuning
|
Kuning Terang
|
Kuning Terang
|
Kuning
|
3
|
Bougenvil
|
Merah Muda
|
Ungu
|
Cokelat Muda
|
Merah Muda
|
4
|
Kunyit
|
Kuning
|
Kuning Muda
|
Oren
|
Kuning
|
Ø Tabel pengamatan pengujian dan pengelompokkan larutan
No
|
Larutan
|
Perubahan Warna
Indikator Alam
|
Sifat Larutan
|
1
|
G
|
Hijau
|
Basa
|
2
|
H
|
Merah Maroon
|
Asam
|
3
|
I
|
Hijau
|
Basa
|
4
|
J
|
Merah
|
Asam
|
5
|
K
|
Merah Maroon
|
Netral
|
6
|
L
|
Hijau
|
Basa
|
B. Analisis Data
Perubahan warna kunyit dan ekstrak mahkota bunga dapat
terjadi sesuai dengan sifat larutan yang diberi. Perubahan warna pada ekstrak
bunga ada yang mencolok dan tidak. Contoh perubahan warna yang tidak mencolok
adalah ekstrak kunyit yang berubah dari warna asli kuning menjadi kuning muda
(larutan cuka), kuning terang (larutan NaOH),dan kuning(air suling). Sedangkan perubahan warna
yang mencolok adalah Kembang Sepatu dari warna asli merah maroon menjadi merah
terang (larutan cuka), hijau (larutan NaOH), dan merah maroon (air suling).
Bunga dengan perubahan warna yang mencolok dapat di gunakan untuk mengetahui
sifat asam-basa larutan yang belum di ketahui. Misalnya untuk mengetahui sifat
larutan G, H, I, J, K, L, kita bisa menggunakan ekstrak kembang sepatu. Karena
perubahan warna yang terjadi terlihat jelas.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
percobaan yang telah kami lakukan, kita dapat menyimpulkan bahwa, ternyata
ekstrak dari bahan alam dapat di gunakan sebagai indikator asam dan basa yang
dapat di ketahui dengan perubahan warna yang di tampilkan.
B. Saran
Sebaiknya dalam memilih indikator untuk percobaan mengetahui larutan asam basa, pilih objek yang paling
baik seperti tanaman kubis ungu, dan kembang sepatu.
DAFTAR PUSTAKA
Purba, Michael,dkk.
2012. KIMIA untuk SMA/MA KELAS XI. Jakarta: Penerbit Erlangga
http://wahidahsyamsu.blogspot.com/2013/03/laporan-lengkap-praktikum-kimia.html
(di
akses pada tanggal 26 Januari 2014)